Kelompok kerja konsorsium teknologi blockchain yang terdiri dari IBM, IPG Reprise Digital, Omnicom Media Group, Publicis Media, GroupM, CoinDesk, MAD Network dan lainnya telah menyiapkan kertas putih yang membahas permasalahan terkait teknologi blockchain.
Antara lain: “Apa itu blockchain?”, “Bagaimana cara kerja blockchain?”, “Bagaimana cara menggunakan blockchain dalam periklanan?”, “Apa saja kegunaannya?” dan “Teknologi apa lagi yang akan muncul setelah blockchain?”
Selain menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kelompok ini merinci misi dan modus operandinya untuk merevolusi periklanan. Contoh pedoman yang disampaikan oleh konsorsium antara lain gagasan bahwa periklanan harus bebas dari pencurian, penipuan, kehilangan dan penipuan; bahwa industri periklanan harus benar-benar transparan dan dapat dipercaya agar bisa sukses; dan bahwa blockchain dan mata uang kripto adalah dua teknologi terpenting yang dibutuhkan untuk membawa periklanan ke level berikutnya.
“Meskipun sering diabaikan, periklanan mendanai penciptaan Internet,” kata Cristiana Cacciaputi, CEO AdLedger. “Pada tahap awal, pendekatan yang didukung iklan berperan penting dalam penerapannya, namun juga membuat kita rentan terhadap masalah yang dihadapi industri saat ini, yaitu iklan berlebihan dan kurangnya kontrol privasi konsumen.”
Baca juga
Sony akan melindungi hak cipta menggunakan blockchain
Perusahaan Jepang Sony telah mengumumkan transisi ke teknologi perlindungan hak cipta (DRM) generasi berikutnya, yang akan menggunakan blockchain. Proyek ini akan dikembangkan oleh Sony Music Entertainment Jepang dan Sony Global Education.
Universitas blockchain pertama dibuka di Malta
Universitas pertama di dunia akan segera dibuka di Malta, yang sistem administrasinya seluruhnya dibangun di atas blockchain. Menurut laporan Medium pada 24 Agustus 2018, beberapa ilmuwan dari institusi pendidikan terkemuka dunia telah menandatangani kontrak dengan universitas tersebut.
